Apa-itu-Toxic-Positivity

Apa itu Toxic Positivity?

Berfikir Positif itu Salah, Benarkah ?

Cheer Up!”, “Be Positive !”, “Look on the bright side!” atau “It’s all going to be okay” adalah kata-kata yang sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan sendiri ketika menghadapi atau mendengar suatu kondisi yang kurang menyenangkan. Sepintas, sepertinya tidak ada yang salah dengan kata-kata tersebut. Namun, ucapan ini tidak tepat jika kita sampaikan pada seseorang yang menghadapi permasalahan yang membuat perasaannya memburuk. Kesalahannya adalah memaksa orang tersebut untuk terus berfikir positif di tengah kondisi emosi yang tidak stabil. Kondisi ini merupakan toxic positivity. 

Toxic positivity adalah obsesi yang seseorang miliki untuk selalu berpikiran positif. Perspektif ini membuat orang-orang harus terus memberikan sinyal positif untuk semua pengalaman yang mereka rasakan, bahkan untuk kejadian yang tragis sekalipun. 

Toxic positivity membuat individu tersebut menolak emosi negatif, perasaan sedih dan emosi lainnya yang membuat diri nya merasa tidak nyaman. Bahkan tidak jarang mereka yang terjebak dalam toxic positivity pura-pura bahagia di dalam proses perjuangannya. 

Dampak Negatif dari Toxic Positivity

1. Melemahkan Keuletan Individu dalam Berusaha

Berpikir atau bersikap positif adalah sesuatu hal yang baik. Hal ini menjadi salah ketika memaksakan diri untuk selalu melihat sisi positif dari setiap hal buruk yang terjadi. Henry Manampiring dalam bukunya Filosofi Teras mengutip isi artikel berjudul “The Problem With Positive Thinking” yang menyimpulkan jika berpikiran positif akan menghambat perkembangan individu. Beberapa hasil eksperimen memperlihatkan bahwa mereka yang menerapkan positive thinking dalam usaha mencapai suatu tujuan sering kali mendapatkan hasil yang lebih buruk daripada dengan mereka yang tidak menerapkan positive thinking.

Penulis artikel “The Problem With Positive Thinking” menyarankan agar orang-orang menerapkan konsep “mental contrasting” di mana menggabungkan positive thinking dengan memikirkan hambatan-hambatan yang akankitalalui untuk mencapai goals masing-masing individu. Mereka yang menerapkan mental contrasting mendapatkan pencapaian lebih baik, dibandingkan dengan orang-orang yang hanya memikirkan hal-hal positif. 

2. Mengabaikan Bahaya yang Nyata 

Berfikiran positif atas apapun keadaan yang menimpa kita tak jarang membuat kita bersikap lengah dan mengabaikan bahaya nyata yang mungkin saja terjadi. Sebuah penelitian pada tahun 2020 pada 29 studi kasus kekerasan dalam rumah tangga disebabkan oleh toxic positivity. Orang-orang yang memiliki optimisme, harapan dan pengampunan walaupu berda dalam hubungan toxic karena kekerasan akan menghadapi keadaan yang lebih berbahaya karena menjadi sasaran kekerasan berlanjut dalam hubungan tersebut. 

3. Merendahkan Perasaan Orang Lain 

Ketika Anda menghadapi kehilangan dan berbicara kepada seseorang terhadap perasaan yang Anda miliki, namun orang tersebut memberi respon untuk bersikap positif. Hal ini akan membuat Anda bingung dan mempertanyakan perasaan yang Anda miliki. Respon positif yang diberikan saat seseorang menghadapi situasi yang tidak menyenangkan terkesan merendahkan perasaan atau emosi yang ditunjukkan orang tersebut. 

4. Menimbulkan Masalah yang Lebih Besar

Toxic positivity membuat orang-orang menghindar dari permasalahan yang ada. Perasaan tidak nyaman yang muncul karena permasalahan akan disingkirkan dengan cara memikirkan hal-hal positif dari masalah tersebut. Hal ini menyebabkan masalah tidak terselesaikan dan menumpuk. Dalam jangka pendek berpikir positif membuat Anda terlihat menyelesaikan masalah secara cepat, namun jika semua masalah diselesaikan dengan berpikir positif, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar di kemudian hari. 

5. Menjadi Pemicu Permasalahan Psikologi 

Seseorang yang berada dalam jebakan toxic positivity selalu berusaha untuk menghindari semua jenis emosi negatif seperti kesedihan, marah, atau kecewa terhadap suatu hal. Padahal merasakan dan mengekspresikan perasaan negatif adalah sesuatu hal yang wajar saja. Penyangkalan emosi negatif dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan permasalahan mental, seperti cemas, kesedihan tanpa sebab, stress berat, burnout, bahkan bisa menimbulkan gangguan tidur, depresi, dan PTSD. 

Ciri-Ciri Toxic Positivity 

Terkadang seseorang tidak menyadari jika mereka terjebak dalam toxic positivity. Beberapa ciri-ciri yang bisa Anda kenali adalah:

  1. Tidak menunjukkan perasaan yang sedang Anda rasakan secara tepat atau menutupinya dengan emosi positif. 
  2. Terlihat seperti membiarkan atau menghindari masalah.
  3. Memiliki perasaan bersalah ketika mengekspresikan atau merasakan perasaan negatif. 
  4. Memberikan semangat pada orang lain tetapi sering kali tanpa kita sadari hal ini diikuti dengan pernyataan yang terkesan merendahkan seperti kalimat yang sering kita dengar “Jangan menyerah, begitu saja kok tidak bisa”.
  5. Membandingkan diri dengan orang lain. 
  6. Menyalahkan orang lain yang sedang berada dalam situasi tidak menguntungkan. 

Toxic positivity bisa terjadi dalam berbagai situasi, termasuk dalam lingkungan pekerjaan. Ciri-ciri orang yang terjebak toxic positivity dalam dunia kerja adalah:

  1. Memaksakan Diri untuk Selalu Bersikap Optimis Walaupun sedang Stress dengan Pekerjaan

Dikejar deadline, memiliki atasan kerja yang perfeksionis dan kurang menyenangkan, konflik pertemanan dengan rekan kerja, jobdesk yang tidak sesuai dengan kepribadian diri akan membuat kita merasakan berbagai emosi negatif seperti kesal, marah, sedih dan kecewa. Semua perasaan ini wajar untuk dirasakan karena tekanan yang Kita rasakan. Namun mereka dengan pikiran toxic positivity selalu bersikap pura-pura bahagia dan berpikir positif. Tidak salah bersikap positif dalam situasi ini. Hal ini menjadi salah apabila menekan semua emosi negatif dan menguburnya. Tumpukan emosi negatif yang tidak terselesaikan akan menimbulkan permasalahan mental yang bisa berdampak pada kinerja karyawan. 

  1. Cenderung Menyepelekan Masalah yang Ada 

Dalam lingkungan pekerjaan kita dihadapkan berbagai masalah yang akan membuat kita bertumbuh. Orang yang selalu berpikiran positif terkesan seperti menghindari masalah dan tidak menganggap penting masalah yang ada. Hal ini membuat mereka tidak optimal menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sehingga mereka melewatkan kesempatan untuk berkembang. 

Cara Menghadapi Toxic Positivity

Jika Anda merasa terjebak dalam pikiran toxic positivity, beberapa cara berikut bisa Anda praktekan untuk menghadapinya:

1. Terima Semua Emosi Negatif 

Merasakan ketidaknyamanan karena emosi negatif adalah sesuatu yang wajar. Ketika merasakan hal tersebut, Anda bisa bercerita kepada seseorang yang Anda percaya ataupun menuliskannya dalam buku harian. 

2. Memahami Bukan Menghakimi

Perasaan negatif bisa timbul karena berbagai hal, Anda harus memahaminya dengan baik. Jika perasaan ini dirasakan orang lain, maka Anda tidak boleh menghakiminya. 

3. Pada Diri Sendiri 

Sikap membandingkan diri dengan orang lain terkadang sering kita lakukan, termasuk dalam membanding-bandingkan permasalahan yang dihadapi. Kegiatan ini bisa saja menimbulkan ketidaknyamanan. Kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah berbeda-beda, jadi daripada membandingkan, lebih baik fokus pada kondisi dan emosi yang dirasakan, agar bisa cepat kembali pulih. 

Tentang Penulis

Defka Yuliani